Judulnya
agak berat memang.. Terinspirasi buat bikin tulisan ini udah cukup lama, hanya
saja belum terealisasikan untuk di publish dan disempurnakan.
Terinspirasi
dari kelulusan aku menyandang gelar Magister Psikologi, Psikolog. Makin panjang
plus berat deh tuh nama.. hihi.. Gelar yang semakin panjang gak menimbulkan
kebahagiaan sih buat aku, justru menambah beban yang cukup berat dengan
tanggung jawab yang lebih besar. Sejak masa sekolah, kuliah awal gak kepikiran
bisa menyandang gelar sepanjang itu dan seberat itu. Kepikiran hanya menjadi
orang berhasil yang bakal menghasilkan banyak uang. hahaha..
Selama
proses menjadi psikolog pun jatuh bangun, kesandung sana-sini.. Proses berat
dan panjang.. Tapi disinilah aku mulai belajar banyak hal yang menjadi bekal
untuk aku menjalani profesi baruku nantinya. Setelah aku mulai magang dan
praktikum aku baru sadar menjadi seorang psikolog gak sekadar menerima curhatan
orang, kasih advice andddd FINISH!! Salah besar, walaupun banyak orang yang
menganggap kerjaan psikolog gampang dan gak butuh tenaga ekstra.. Disinilah
terkadang kita lupa sama beban dari sebuah profesi yang dijalani seseorang..
Psikolog juga manusia yang tetap punya perasaan kesel, sedih, bete, sakit.. Dan
apa yang akan mereka lakukan saat perasaan itu muncul dan mereka harus menerima
klien? Ya, tentu saja mereka harus memakai topeng.. Hal mudah mungkin untuk
beberapa orang yang tidak mengerti seberapa besar tenaga yang mereka pergunakan
untuk menjadi pendengar dan pemberi nasehat yang baik dikala mereka sedang
dilanda rasa sedih yang mendalam. Belum lagi saat banyak orang (sahabat
terutama) yang memaksa mereka untuk memberitahukan bagaimana cari mengerjakan
psikotes, padahal psikolog dihadapkan dengan segudang kode etik yang melandasi
ruang gerak mereka. Namun inilah yang orang awam kurang paham..
Hal
lain yang mungkin aku lihat dari profesi lain yang memang aku baru dalami
belakangan ini. Seorang teman lama yang menyandang gelar seorang dokter.
Walaupun hanya seorang dokter umum, namun beban mental yang ditanggungnya pun
berat.. Kebanyakan orang menganggap betapa enak dan nyamannya kehidupan seorang
dokter yang bisa bebas jam kerjanya.. Tapi dibalik itu orang-orang gak pernah
sadar sama beban yang mereka tanggung saat salah satu pasien mereka meninggal,
pasien yang mereka tangani benar-benar tidak tertolong, saat mereka menghadapi
pasien gawat darurat. Kebanyakan orang hanya menuntut supaya sang dewa penolong
memberikan usaha terbaik. namun saat usaha terbaik hingga keringat terakhir
dokter apa orang akan menghargai sebagai pekerjaan yang mulia? terkadang tidak
saat hasilnya tidak sesuai dengan yang mereka inginkan. Mereka cenderung
menyalahi dokter dan tidak sedikit yang menuntutnya menjadi sebuah malpraktek.
Hal yang memang berat untuk dihadapi seorang dokter.
Teman
lama ini membuatku terinspirasi dengan beberapa kisahnya saat menghadapi pasien
yang meninggal, pasien darurat yang membutuhkan pertolongan. Munculah
pertanyaan dia "Dokter adalah penyelamat jiwa namun siapa yang akan
menjadi Life Saver untuk seorang Dokter?" hal ini menginspirasikan aku
membuat
'Medical
Psychology Philosophy'..
If a doctor need
a life safer there will a psychologist beside him for safe his life and if a
psychologist need a self healer there will be a medical doctor will heal her.
Catharina
Nidyaputri, 2013
Hasil
perenungan setelah perbincangan antara saling keterkaitan tentang kelemahan
kami sebagai manusia yang masih memiliki perasaan dan membutuhkan orang lain
untuk saling berbagi. Mungkin tidak hanya berlaku kepada profesi psikolog dan
dokter, profesi lain tetap bisa saja saling melengkapi.. filosofi ini aku buat
untuk menyalurkan dalam bentuk kata-kata kalau manusia dapat menjadi seorang
ahli terapis masing-masing.. So, come on.. jangan selalu menganggap setiap
profesi itu hidupnyaa enak dan santai.. We are just still a human...
By:
Melody Piano
No comments:
Post a Comment