Thursday, August 15, 2013

Beban mental sebuah Profesi

Judulnya agak berat memang.. Terinspirasi buat bikin tulisan ini udah cukup lama, hanya saja belum terealisasikan untuk di publish dan disempurnakan.

Terinspirasi dari kelulusan aku menyandang gelar Magister Psikologi, Psikolog. Makin panjang plus berat deh tuh nama.. hihi.. Gelar yang semakin panjang gak menimbulkan kebahagiaan sih buat aku, justru menambah beban yang cukup berat dengan tanggung jawab yang lebih besar. Sejak masa sekolah, kuliah awal gak kepikiran bisa menyandang gelar sepanjang itu dan seberat itu. Kepikiran hanya menjadi orang berhasil yang bakal menghasilkan banyak uang. hahaha.. 
Selama proses menjadi psikolog pun jatuh bangun, kesandung sana-sini.. Proses berat dan panjang.. Tapi disinilah aku mulai belajar banyak hal yang menjadi bekal untuk aku menjalani profesi baruku nantinya. Setelah aku mulai magang dan praktikum aku baru sadar menjadi seorang psikolog gak sekadar menerima curhatan orang, kasih advice andddd FINISH!! Salah besar, walaupun banyak orang yang menganggap kerjaan psikolog gampang dan gak butuh tenaga ekstra.. Disinilah terkadang kita lupa sama beban dari sebuah profesi yang dijalani seseorang.. Psikolog juga manusia yang tetap punya perasaan kesel, sedih, bete, sakit.. Dan apa yang akan mereka lakukan saat perasaan itu muncul dan mereka harus menerima klien? Ya, tentu saja mereka harus memakai topeng.. Hal mudah mungkin untuk beberapa orang yang tidak mengerti seberapa besar tenaga yang mereka pergunakan untuk menjadi pendengar dan pemberi nasehat yang baik dikala mereka sedang dilanda rasa sedih yang mendalam. Belum lagi saat banyak orang (sahabat terutama) yang memaksa mereka untuk memberitahukan bagaimana cari mengerjakan psikotes, padahal psikolog dihadapkan dengan segudang kode etik yang melandasi ruang gerak mereka. Namun inilah yang orang awam kurang paham.. 

Hal lain yang mungkin aku lihat dari profesi lain yang memang aku baru dalami belakangan ini. Seorang teman lama yang menyandang gelar seorang dokter. Walaupun hanya seorang dokter umum, namun beban mental yang ditanggungnya pun berat.. Kebanyakan orang menganggap betapa enak dan nyamannya kehidupan seorang dokter yang bisa bebas jam kerjanya.. Tapi dibalik itu orang-orang gak pernah sadar sama beban yang mereka tanggung saat salah satu pasien mereka meninggal, pasien yang mereka tangani benar-benar tidak tertolong, saat mereka menghadapi pasien gawat darurat. Kebanyakan orang hanya menuntut supaya sang dewa penolong memberikan usaha terbaik. namun saat usaha terbaik hingga keringat terakhir dokter apa orang akan menghargai sebagai pekerjaan yang mulia? terkadang tidak saat hasilnya tidak sesuai dengan yang mereka inginkan. Mereka cenderung menyalahi dokter dan tidak sedikit yang menuntutnya menjadi sebuah malpraktek. Hal yang memang berat untuk dihadapi seorang dokter.
Teman lama ini membuatku terinspirasi dengan beberapa kisahnya saat menghadapi pasien yang meninggal, pasien darurat yang membutuhkan pertolongan. Munculah pertanyaan dia "Dokter adalah penyelamat jiwa namun siapa yang akan menjadi Life Saver untuk seorang Dokter?" hal ini menginspirasikan aku membuat 

'Medical Psychology Philosophy'.. 
If a doctor need a life safer there will a psychologist beside him for safe his life and if a psychologist need a self healer there will be a medical doctor will heal her.
Catharina Nidyaputri, 2013

Hasil perenungan setelah perbincangan antara saling keterkaitan tentang kelemahan kami sebagai manusia yang masih memiliki perasaan dan membutuhkan orang lain untuk saling berbagi. Mungkin tidak hanya berlaku kepada profesi psikolog dan dokter, profesi lain tetap bisa saja saling melengkapi.. filosofi ini aku buat untuk menyalurkan dalam bentuk kata-kata kalau manusia dapat menjadi seorang ahli terapis masing-masing.. So, come on.. jangan selalu menganggap setiap profesi itu hidupnyaa enak dan santai.. We are just still a human... 

By: Melody Piano



No comments:

Post a Comment