Tuesday, April 14, 2015

Birthday Reflection..

14 April 2015 - menit-menit menuju hari ulang tahunku

2 tahun kepergian papaku.. Sudah 3 kali ulang tahunku terlewati tanpa papaku. Sedih?? Of Course YES! Bulan April adalah bulan kami ulangtahun dengan selisih 10 hari. Seandainya papa masih ada, kemarin dirayakan tepat pada hari raya paskah. Tentunya menjadi moment yang berharga, walaupun mungkin terdengar biasa untuk mereka yang berulang tahun di bulan Maret / April. :D

Yep! Tahun 2013, aku merayakan ultah di kost Serpong dan masih berada di kamar kurcaci. Kamar pojokan dengan ranjang diatas lemari & meja belajar. hahaha! Ultah pertama dimana papa sudah gak ada. Memasuki ultah di tahun 2014, aku memulai dengan merefleksikan kembali apa yang sudah kulakukan sepanjang 1 tahun lalu (ada di blog sebelumnya). Terasa sekali saat kami makan-makan bersama keluarga, rasanya selalu ada yang kurang, tak lain lagi papaku. Beruntungnya pada ultahn tahun 2014 ini, ada seseorang yang mengisi liburan ultahku dengan mentraktir aku jalan-jalan ke Jungle Land. Such a Fun things!!

Menginjak kaki di usia 28 tahun lalu, membuatku sadar bukan lagi pesta yang aku inginkan, tp aktualisasi diri ku sendiri terhadap kehidupanku, pekerjaanku, dan tentunya untuk sang pencipta..
Menit-menit akhir di usia 28 tahun ini, aku berada jauh dari rumahku, keluargaku dan ini baru pertama kalinya aku merayakannya dengan beda jarak kurang lebih 500km :( Sedih.. tapi aku gunakan waktu ini sebaik mungkin untuk merenungi kembali dan membuat strategi baru untuk lebih baik dalam menjalani sisa usia kepada 2 ini.. Sebelum tahun depan aku harus menginjakan kaki di usia kepala 3. :) :)

Goodbye soon 28 years old and welcome, 29.. Be Great, Be Nice, Be Strong!! Be a great Woman!! Bless me , God..

MelodyCathz


Tuesday, May 20, 2014

Life transformation in God


Akhirnya hati tergugah untuk mengupload dan sharing mengenai perkembangan iman dari nol hingga meningkat layaknya seseorang sedang menaiki anak tangga. Awalnya aneh saat ingin mencoba menuliskan pengalaman rohani yang mungkin tidak banyak orang tertarik membaca, walaupun tentunya ada satu atau dua orang yang diselamatkan dengan membaca cerita ini. Kisah yang aku alami mungkin bukan kisah dashyat seperti orang2 lain, kisah yang mungkin biasa tapi mengubah 100% kehidupanku. Dan membuat aku yakin juga Yesus ini selalu ada beserta kita. Setelah pembelajaran dari lokakarya yang diadakan pada KONVENDA IX di Cimacan, Puncak dengan pemateri Brother Jungky Junanto. Thanks for ko Jungky yang uda memberikan materi "Kamu dan Saya dalam Kasih-Nya" Quote yang aku ambil adalah Masing-masing anggota bertumbuh kesegala arah, tidak hanya dalam rohani tapi juga dalam aspek kehidupan sehari-hari (karier, pekerjaan, jodoh, keluarga, dsb)”. Pada sharing kali ini aku mau berbagi tentang kebaikan Tuhan dalam memberikan berkat pada perkejaanku. 
Setiap orang sering mengalami masa2 dimana kita merasa Tuhan itu gak pernah ada disaat susah, sehingga mempertanyakan “Tuhan itu kemana sihh? Tuhan tuh ada gak sih? Tuhan itu katanya gak pernah memberi cobaan lebih dari kemampuan kita, Mana buktinya?” hal ini pasti pernah terjadi pada setiap orang secara gak sadar. Sama! Aku pernah mengalami hal ini, membuat aku akhirnya menjadikan gereja hari minggu adalah kewajiban yang harus dijalankan, bukan kebutuhan untuk mengisi rohani. Lama-lama semua terasa kosong. Terlebih saat masa-masa aku kuliah di S1, rasanya ke gereja itu karena takut dimarahin mama, takut ntar dapat bencana dari Tuhan. Akhirnya ke gereja menjadi suatu paksaan. Berdoa pun hanya sekadar mengucap terimakasih dan meminta sesuatu. Tentunya permintaanlah yang paling banyak. :D Saat-saat itu pun mulai ditawarkan untuk mengikuti kegiatan rohani namun melihat para aktivis yang merokok, minum-minum, akhirnya males untuk bergabung dan semakin mempertanyakan Tuhan. Kenapa Tuhan mengijinkan orang-orang yang berlabel “aktivis rohani” tapi malah merusak badannya sendiri. Kekosongan dalam rohani aku rasakan hingga studiku berlanjut ke S2. Hal sama pun terulang, merasa kewajiban menjalani agama yang orang tua turunkan melalui sakramen baptis dari aku masih kecil. Mamaku sempat mengajak aku mengikuti acara karismatik dan aku tidak bisa enjoy mengikutinya, malas, dan merasa sangat berisik.
Hingga suatu hari salah satu dosen memberikan nasehat yang masih teringat selalu “jika kamu mau mempelajari psikologi dari sisi psikoanalisis, kamu harus punya pegangan iman dan agama yang kuat. Tentunya kamu juga harus membedakan antara ilmu psikologi dan agama.” Saat itu sempat tersirat, “sepertinya akan merasa bahwa agama itu nantinya tidak akan penting, karena sudah ada ilmu yang dapat menjawab setiap pertanyaan.” Tapi ternyata dosen lain mengatakan kembali, ilmu filsafat, psikologi masih terdapat ‘missing link’ dimana Cuma Tuhan yang tahu dan tidak akan terjawab oleh manusia.” Aku mulai mempertanyakan kenapa ada karma, kenapa setiap kita berbuat sesuatu selalu mendapat hal sama seperti apa yang kita lakukan? Siapa yang merekam semua ini?
Hingga titik balik ku di mulai pada April 2011. Aku mengikuti retret Kerahiman Ilahi di Cikanyere. Disitulah hatiku benar-benar tersentuh, ada getaran yang kuat untuk aku mau menerima segala kuasa dalam acara tersebut. Ada rasa ingin terbebas dari jeratan yang aku pun gak sadari. Bertemu dengan beberapa orang seperti Ci Novie dan Cinde, salah satu teman sepelayananku saat ini. Dari situ aku mulai merasakan kebahagiaan, ketenangan dan kedamaian diri. Hingga aku merasakan bahwa ekaristi adalah sesuatu yang sangat penting menjadi bagian dari hidupku.
Pulang dari situ, aku mulai merasa ada getaran dashyat saat menerima brosur Sekolah Evangelisasi Pribadi.. aku bertanya kepada mamaku ini kegiatan apa, karena mamaku pernah mengikutinya. Saat itu mamaku hanya bilang “kalau kamu mau ikut, ikut aja.” Melihat persyaratan, ada persyaratan untuk mengikuti Seminar hidup baru dalam Roh (SHDR). Hmm.. keinginan semakin kuat seperti aku menginginkan barang yang sudah aku idamkan sejak lama. Namun pergumulan terjadi.. Seminggu sebelum aku harus mendaftar SHDR, ada rasa malas, rasa malu, rasa takut dan bimbang. Dalam seminggu tersebut, aku selalu tidur dengan mimpi mendapat kuasa keselamatan dari Yesus. Dia yang terasa dekat dalam hatiku. Rasanya tenang, hangat dan penuh dengan sukacita. Tapi otak logisku berpikir, “itu hanya karena aku terlalu bimbang mengambil keputusan”. Orangtuaku tidak ikut campur sama sekali untuk hal ini, mereka membiarkan aku. Hingga H-2 sebelum SHDR aku sempat ditelpon oleh panitia tapi aku masih menjawab “kalau datang langsung aja boleh? Saya takut ada acara.” Padahal acara apa yang aku lakukan, tidak ada! Paling hanya menonton TV atau bermain internet. Sampai H-1, aku memantapkan diriku untuk ikut. Aku bilang sama mamaku dan ia setuju-setuju saja. Pertama kalinya aku mengikuti kegiatan rohani sendiri, tanpa mama.
            Aku mengikuti kegiatan SHDR selama 2 hari, semakin tinggi rasa penasaranku. Hingga pencurahan roh aku lewati dan rasanya segala bebanku terangkat dan hilang begitu saja. Puji tuhan aku mendapat karunia roh kudus. Pada saat itu beban terberat aku adalah tesis profesi yang tidak kunjung selesai. Dan akhirnya aku mengikuti SEP, pesertanya kebanyakan Om dan Tante yang seusia mamaku. Pikiranku saat itu mungkin ini menjadi kelas yang membosankan, tapi ternyata aku berkenalan dengan beberapa anak muda yang usianya tidak jauh dari aku. Teman pertamaku Shinta, usianya persis sama dengan aku dan kami sama-sama menganggur saat itu. Dan Ray, ia selisih beberapa tahun lebih muda dari aku. Pada akhir kelas di hari pertama aku, aku pernah di dekati dengan seorang anak muda.. hmm.. Cinde. Ia menawariku untuk ikut pelayan untuk muda-mudi dengannya. Kegiatan mereka disetiap minggu siang. Aku sempat melewati beberapa pertemuan karena masih ada rasa malas ini. Kemudian Shinta mengajak aku untuk datang lagi ke acara tersebut dan aku rasa, aku harus mencoba datang untuk pertemuan mereka. Sambutan yang sangat baik. Pertama kalinya aku merasa disambut baik dan menikmati kegiatan ini. Hingga sampai pada pelantikan pelayan persekutuan doa. Aku merasa hidupku semakin seimbang dan setiap beban yang aku lewati hanya sebuah cobaan untuk mengisi buku kehidupanku dan aku lebih dapat merasa sabar dan pasrah dengan Yesus. Puji Tuhan! Saat itu, tesisku pun berjalan, aku dapat menyelesaikannya dengan baik. Setiap menghadapi permasalahan aku lebih bisa sabar, rasa empatiku meningkat dan saat aku menyikapi permasalahan dari aspek psikologis semua terasa lebih nyaman, hidupku penuh dengan sukacita.
            Kehidupan imanku semakin berkembang. Sampai pada saat kelulusanku menghadapi sidang tesis. Dan tragedi besar yang menimpa keluargaku. Aku dengan mudah recover dari kejadian menyakitkan itu. Papaku harus meninggalkan kami semua. Rasanya saat itu adalah saat terberat. Namun karena rasa pasrahku, rasa yakin bahwa Yesus punya rencananya, aku yang tampak tegar hanya bisa menyerahkan ini semua pada Yesus. Life must go on. Dan aku selalu yakinkan kepada Yesus pada Ia punya sesuatu yang indah nantinya. Satu hal yang aku sempat renungkan, papaku meninggal saat sudah mengetahui aku dinyatakan lulus dari ujian profesiku, menurutku hal tersebut sudah cukup membuatnya bahagia. Saat itu pun papaku harusnya berangkat ke kantor namun Puji Tuhan, ia meninggal ketika masih dirumah, sehingga kami masih dapat melihatnya saat ia benar-benar pergi. Semua orang yang berkunjung mengatakan “papa kamu meninggalnya enak, gak sakit parah dan tidak menyusahkan orang lain.” Awalnya mendengar itu ada rasa teriris sakit, kenapa gak sekalian aja papa gak usah meninggal. Namun saat aku merenungkan sendiri “Tuhan selalu memberikan waktu dan tempat yang tepat.” Komunitas yang aku ikuti memberikan setiap penghiburan, mengisi hati keluarga kami yang kosong dengan rasa cinta. Aku tetap selalu pasrah dengan setiap kehidupan yang dijalani dan lagi-lagi Tuhan memiliki waktu yang tepat!
Selama prosesi kepergian papa, hingga penguburan abu jenazah papa 2 minggu setelah ia meninggal aku tidak mendapatkan panggilan kerjaan apapun. Tepat pada hari aku mau menguburkan abu papa, 1 perusahaan yang bergerak di dunia pendidikan memanggil aku dan meminta aku mengisi form lamaran, aku meminta untuk dapat di pending 3 hari kedepan. Saat itu harapan terbesar aku adalah aku  berkerja di Garuda Indonesia. Setalah pemakaman, aku dan saudaraku berangkat ke Jogja untuk mampir ke Ganjuran, aku mengucap syukur atas panggilan pekerjaan ini dan pihak perusahaan pun mau menunggu hingga form aku isi. Aku berdoa di Candi mahakudus Ganjuran. Saat aku turun dan akan melanjutkan doa, aku memengang tasku dan rasanya ada yang bergetar, aku segera mengecek handphoneku, tepat! Ada nomor dengan kode area jakarta menelpon aku. Dan itu adalah GARUDA INDONESIA. Rasa bahagia langsung berkecamuk dalam hatiku. Aku dipanggil untuk mengikuti seleksi tahap ke 2, tahap 1 merupakan seleksi CV. Setelah telpon dari GIA aku tutup,  seling 2 menit ada nomor lain yang menelpon aku dengan kode area jakarta. Dan panggilan kerja lain di salah satu biro konsultasi di Jakarta. Tuhan memberikan berkatnya pada waktu yang tepat!
Hingga akhirnya aku bergumul dan membiarkan tuhan menuntunku mengambil keputusan yang terbaik untuk pekerjaanku. Aku akhirnya masuk ke Surya University dan banyak hal yang aku pelajari disana. Hingga aku dikirim pada 4 tempat dalam waktu kurang dari 1 tahun; Serui, Makassar, Aceh dan Ambon. Puji Tuhan! Cerita perjalananku pun pada daerah-daerah tersebut ada di cerita lain pada blog ini, dimana tangan Tuhan lagi-lagi bekerja untuk hidupku. Hingga sampai saat ini berkat tuhan selalu ditambahkan untukku setiap harinya dan aku boleh dipercayakan melayani pada Persekutuan Doa YPC St. Gregory.
Sekian sharing singkat ini, semoga menjadi berkat bagi teman-teman yang membacanya. Silakan tunggu cerita-cerita selanjutnya pada blog ini J God bless..


By: Melodycathz


Tuesday, April 15, 2014

Ulang tahun

Setiap org pasti pernah mengalami masa ultahnya yg menyenangkan di usia 3 -5 tahun.. masa2 yg selalu dinanti diusia tersebut... hadiah, kue, pesta dgn teman... sangatttt menyenangkan.. bahkan tidak jarang juga ada anak yg ingin merayakan ultahnya 2x dalam setahun.. hal tersebut akupun pernah alami... Menantikan hadiah terindah dr orangtua.. Saat ini tidak sedikit anak yang diajak ortunya untuk memilih sendiri kue ulang tahunnya.. Anak perempuan ygsenang dengan tokoh kartun favoritnya atau princess, anak laki-laki yg juga memilih tokoh kartun favorit, club bola favorit atau karakter hero tertentu.. Anak2 selalu ingin cepat dewasa saat mereka ulang tahun.. ingin cepat remaja dan bekerja.. hahah...

Aku mengalami masa itu sekitar 25 tahun lalu... menantikan hari ulangtahun karena hadiah dari kakak, orangtua, teman bahkan pembantu rumahku yg tidak pernah lewat untuk memberikanku hadiah ultah.. Mamaku yg selalu mempersiapkan kue ultah untuk anak2nya... menyenangkan... yaaa, sangat menyenangkan..

Yaa, itulah yg dialami anak2 diusia tahun itu.. namun bagaimana dengan ulang bagi yang usia sudah 25 tahun keatas apakah ingin cepat bertambah usia lagi sebagaimana ia kecil? Tidak! Haha

Semenjak aku menginjakkan kaki diusia 23 tahun aku mulai berpikir bukan  lagii ingin cpt dewasa tapi rasanya pengen melompati ulang tahun.. hihihi... aku mulai hanya merenung di hari ultahku... apa sih yg udah aku lakukan selama 23 tahun hidup di dunia ini... apa yg sudah aku berikan kepada dunia ini terutama untuk kehidupanku.. hahaha...

Apa yg dilakukan pada H-1 ultah jika dl disaat msh kecil kita pasti sdg mempersiapkan kue, pesta? Perjalananku ke Jakarta diantara kemacetan aku akhirnya merenung apa aja sih udah aku lakukan selama 28 tahun minus 1 hari ini... hmm.. target2 apa aja sih yang belum tercapai sama sekali.. hmm, msh banyak ternyata.. banyak hal yng belum tercapai maksimal di usia 28 thn ini.. hehe.. Rasanya semakin enggan buatku melewati hari ultah aku.. tanggung jawab tentunya lebih besar lagi.. semakin besar juga tuntutan utk segera melanjutkan kehidupan bersama dengan pasangan.. hahaha... (curcol).. Tapi apapun, bagaimanapun, hari ultah tidak bs dilewati tanpa menambah usia.. Happy bday to my self... never stop dreaming!

By: MelodyCathz

Thursday, November 14, 2013

My First Job!

(Late Posting)

Lewati dua bulan setelah meninggalnya papa, waktunya aku juga move on! Aku mulai bekerja di Surya University. Ya, dunia pendidikan. Mungkin memang benar kata pepatah “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Kedua orangtuaku terjun di dunia pendidikan dan aku mengencam mereka tidak mau mengikuti jalan mereka untuk terjun ke dunia pendidikan. Namun, Takdir berkata lain (hahaha), panggilanku tetap tidak jauh dari dunia pendidikan. Beberapa tempat kerja menjadi pertimbanganku, namun disinilah aku menetapkan keputusanku untuk memulai bekerja. Dan saat aku masuk ke sini, sebagian besar sahabat, rekan kerja, mahasiswa papaku semua ada disini. Wow! Aku dengan mudah menyapa mereka, beramah-tamah dengan mereka. Rasanya senang bisa tetap membina tali silahturahmi yang baik dengan rekan-rekan papa. Namun, ada rasa yang kurang. Aku tidak bisa bercerita dengan papa, walaupun mungkin papa sedang melihat dari surga. Tapi aku merasa tidak puas dengan tidak bercerita kepada papa. Tiap malam yang kulakukan adalah berdoa dan meminta Tuhan menyampaikan pesanku “Pa, aku ketemu sama om ini, om itu, kenalan sama bekas mahasiswa papa. Ternyata sempit ya dunia ini, pa.”
Hingga suatu hari aku bertemu dengan salah satu mahasiswa papa. Kami berkenalan dan akhirnya dengan mudah ia mengenali aku sebagai anaknya Bpk. Kaswadji. Hahaha. Akhirnya kami mulai membina percakapan dengan baik. Dan ia mengatakan papaku sering menceritakan banyak hal mengenai aku, keluarga kami, betapa bangganya papa memiliki seorang anak yang sedang melanjutkan S2. Saat itu aku yakin papa sedang melihat kami dan dengan sisi humorisnya dia meledek aku “tuhkan, masuk dunia pendidikan juga dehhh..” hahha. Lelucon yang kami lontarkan dalam pembicaraan. Hal yang menyenangkan adalah, aku lebih bisa mengenal lebih lagi sosok papaku di dunia pendidikan. Betapa ia dihormati dan dihargai.
Salah satu rekan kerja papa pun bilang aku benar-benar mengikuti jejak papa di dunia penelitian dan senang bermain dengan biota laut. Papaku yang selalu hidup dengan dunia kelautannya dan dunia penelitian dan ternyata memang menempel di aku. Tentunya dibarengi dengan mamaku juga yang mengambil jurusan yang sama. Thanks Dad for being my Inspired!



By: MelodyPiano

Goodbye, Dad


(late posting)

Rasanya semua seperti mimpi... Ya, tepat 8 bulan lalu, papa meninggalkan kami semua.. seperti mimpi yang berakhir dengan sedih. Mimpi yang saat tidak dapat dirubah atau dikarang jalan ceritanyaa...

Aktivitas pagi itu Kamis, 21 Februari 2013 berjalan normal.. Mama yang sedang flu tidak masuk kantor.. Aku yang selalu bangun siang.. mungkin lebih siang dari biasanya.. hari sebelumnya aku memang melakukan aktivitas penuh di luar rumah dan tidak bisa tidur di malam harinya. Termasuk dibuat kesal karena sebuah mangkok jatuh dan pecah dari kulkas. Hmm.. Hari yang cukup menyebalkan untukku.. Namun malam itu cukup aneh, dimana papaku bilang “sorry” dan kemudian kembali lagi ke tempat duduknya. Aku membereskan sisa-sisa pecahan mangkok yang aku “pecahkan” dengan ngedumel..
Paginya aku bangun pk. 07.00 hanya membuka pintu dan korden rumah, supaya pembantuku dapat masuk ke rumahku. Tidak ada firasat buruk apapun, papaku masih tertidur di kamarnya. Kemudian aku kembali ke kamar dan melanjutkan tidurku. Pukul 08.00 aku terbangun dan sempat melihat papa sedang SMS di sofa ruang TV. Tanpa ada curiga apapun, aku pun tidak menyapanya.. Mamaku yg sedang dalam kondisi tidak enak badan pun tidak terbangun. Aku mendengar papaku makan seperti biasa.. Benar-benar normal. Mamaku kemudian masuk kamar mandi di lantai atas dan aku mendengar papaku sedang mandi juga di kamar mandi lantai bawah. Papa yg senang bersenandung dan nyanyi-nyanyi di kamar mandi..
Semua terdengar biasa. Aku berdiri di dekat kamar mandi bersama dengan mbak ning yang sedang menyapu di area tersebut. Tidak lama aku mendengar papa terbatuk-batuk seperti orang yang tersedak dan kemudian aku mendengar suara orang jatuh.. papaku.. Ya.. Papa jatuh di kamar mandi.. Papa sempat mengerang kesakitan... Kami panikkk.. Sangattt panik.. Aku mencoba gedor-gedor pintu kamar mandi namun semua percuma, akhirnya aku membongkar lubang handle pintu yang tidak pernah di perbaiki, hanya di tutup dengan lakban hitam. Papaku jatuh dengan posisi terlungkup.. Mamaku segera turun dan kemudian mencoba mengangkat papa, aku dan mbak memanggil tenaga bantuan ke satpam dan tetanggaku. Akhirnya 1 orang satpam yang sedang berjaga, 1 orang supir, 2 tetanggaku (ko Chris dan kakak iparnya segera membantu aku).. Papa di pindah ke ranjang di kamarnya.. Aku menenangkan mamaku, mulai menghubungi kakakku dan tetangga yang terdekat.. Semua dalam kondisi panik. Dokter terdekat pun tidak dapat kami hubungi.. Hingga sampai papa menghembuskan nafas terakhirnya.. kami tidak dapat berbuat apa-apa.. Tangisan mama, mama lemas di sofa dan tidak sanggup berbuat apa-apa.. Aku yang harus kuat, menggunakan sejuta ilmu yang aku miliki untuk coping stress dan berusaha untuk kuat, aku mulai menelpon saudara papa, saudara mama dan rekan-rekannya.. tidak ada lagi yang bisa selain aku... Mama sudah lemas, mbak sibuk membantu keperluan lain.. Kakak ku pun sampai di rumah dengan sedih mendekati jenazah papaku di kamar. Saat itu aku tidak bisa nangis.. hanya berpikir apa yg harus aku lakukan saat ini... Aku takut, panik, sedih. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa... Aku pun mengalami delay respon saat itu, aku harus tetap kuat dan tegar untuk menghubungi setiap saudara dan kolega papa. Rasanya aku ingin berada di samping papa saat itu, aku bingung, beberapa kali aku menengok ke kamar papaku untuk melihatnya, proses yang sangat cepat.. Terlalu cepat bahkan!
Namun saat aku berdiam sejenak, saat aku berangkat ke rumah duka dengan ambulance yang mengantarkan jenazah papaku. Aku yakin Tuhan memberikan waktu yang tepat untuk papa, untuk kami semua. Aku sudah dinyatakan lulus Magister Profesiku, dan papaku masih bisa mendengar hal itu. Lamunanku hilang saat sampai di rumah duka. Pertama kalinya aku mengurus hal ini, aku bingung. Tapi aku berusaha tetap mengurus dengan baik dan lebih dewasa menyikapi ini semua. Semua berjalan hingga akhirnya seluruh rangkaian kegiatan berakhir di crematorium. Ya, jasad papaku bahkan sudah menjadi abu. Tapi aku masih tetap merasa ini adalah waktu yang Tuhan berikan kepada kami semua.
Lewati satu minggu, kami mulai membersihkan barang-barang papa walaupun tidak semuanya. Satu persatu kami rapikan barangnya yang selalu tidak ingin disentuh maupun di bersihkan orang lain. Satu hal yang aku temukan saat berberes, buku mengenai membuat blog. Buku yang sempat aku pinjamkan ke papa saat ia bertanya mengenai blog. Aku sempat menawarkan jasaku untuk membuatkannya blog, namun ia menolaknya, ia masih ingin mencari ide untuk mengisi blognya. Situasi itu membawa aku kembali dalam percakapan kami mengenai blog. Dimana saat itu aku belum mempublish seluruh isi blog ku. Namun aku berpikir, seseorang yang sudah berusia masih ingin eksis dengan mengekpresikan, membagikan hal-hal yang pernah ia pelajari di blog, mengapa aku yang masih di usia produktif tidak berani membagikan apa yang aku miliki, sedangkan menulis adalah passionku. Thanks Dad mengingatkanku untuk selalu menulis!
Masa-masa yang cukup berat kami lewati dengan kekosongan rumah kami. Tapi kami selalu mencoba untuk melaluinya dengan mengenang kenangan yang indah dengan papa sehingga hati kami yang selalu terisi dengan masa-masa indah dengan papa. Papaku orang yang cukup baik dalam hal administrasi, menurun padaku :D ia menyimpan seluruh surat-surat yang dikirimkan kepada aku dan kakakku selama ia sedang menyelesaikan studinya di Amerika. Dan begitu banyak panggilan-panggilan kecil untukku yang di lontarkan papaku kepada kakakku. Hmm… sangat lucu.. Aku yakin itu masa-masa yang menyenangkan pastinya. Papaku orang yang humoris walaupun agak pendiam jika dalam keluarga. Sosok yang galak untuk aku saat mengajarkan aku hitungan yang membuat aku menangis, tapi ini semua baru aku sadari saat ini. Alasan papa mengajarkan aku, memaksa aku untuk paham konsep matematika dasar (walaupun sekarang aku membencinya :D). Papa juga menyimpan banyak cerita saat dengan rekan kerjanya, mereka tahu perkembanganku, bahkan papaku sangat bangga saat aku telah dinyatakan lulus Magister Profesi.
Aku semakin menyakini inilah waktu Tuhan untuk manusia, Tuhan memberikan banyak kesempatan kepada kami disisa waktu-waktu itu. Papaku menyemangatiku untuk revisi tesisku, memberikan selamat atas lulusnya aku dan merencanakan untuk wisuda serta sumpah profesi. Kami pun sempat berbincang panjang dengan papa yang sebelumnya tidak pernah kami lakukan. Masih sempat mendapat oleh-oleh terakhir dari papa, masih mendapatkan komentar terakhir setelah aku foto untuk pas foto di ijazah. Dan permintaanku waktu itu adalah “setelah wisuda, kita sekeluarga harus foto barengan, harus, wajib!” inilah yang tidak pernah tercapai. Tapi aku yakin dengan mendengar aku lulus dan mendapatkan kerja membuat papaku sangat bangga. Mungkin rasa bangga yang tidak terekspresikan langsung tapi ia menceritakan kepada seluruh temannya. Hahaha… papa bisa aja.. :D Hal lain yang membuatku semakin yakin inilah waktu Tuhan adalah kondisi saat papa meninggal. Ia dalam kondisi yang sangat sehat dan ia tidak merasakan kesakitan dalam waktu yang lama. Tuhan menginginkan hal yang terbaik. Sekarang yang kami lakukan adalah mengenang seluruh kenangan manis dan indah bersama papa, dan mendoakannya, You always be in Our Heart, dad! Miss u so much my best b’day partner :D

By: MelodyPiano



Thursday, August 22, 2013

Why Melody??

Ada seseorang yang bertanya “Kenapa sih kamu memilih kata melody untuk setiap kata2 atau identitas diri kamu? Apa sih sebenernya arti melody?” Mungkin disini aku belum pernah ulas dan mungkin aku sendiri belum kepikiran untuk menjelaskannya. Awalnya memang aku pun gak kepikiran sama sekali kenapa aku memilih kata Melody..

Awalnya aku memilih kata Melody itu karena aku selalu hidup dengan music, well gak selalu sih, cuma aku emang sangat senang dengan music. Melody merupakan bagian dari music itu sendiri. Dan saat aku mulai beranjak dewasa *ketinggan kata-katanya*, aku mulai berpikir apa sih landasan aku hidup di dunia ini? Apa yang ingin aku capai di dunia ini? Dan kata Melody inilah yang memang terbesit dalam pikiranku. Melody merupakan bagian dari music dan melody itu sendiri artinya adalah serangkaian nada dalam waktu. Dalam teori music, ada kata nada dan ritme. Inilah yang melandasi kata Melody tersebut. Ritme ini sendiri adalah pengaturan bunyi dalam waktu.

Tanpa kita sadari seluruh kehidupan kita terpengaruh oleh nada dan ritme. Contoh mudah, jantung kita. Jantung kita berdetak dengan memiliki ritmenya sendiri. Dan kalau kita dengar orang mendengkur saat tidur, kadang untuk sebagian orang itu adalah hal yang paling menganggu.. tapi tanpa disadari itu merupakan ritme dan bunyi yang dihasilkan oleh tubuh kita. Hahaha.. Simple kan, secara gak sadar ya kita sudah hidup bersama dengan melody. Dengan bunyi-bunyian pun bahkan bisa merubah suatu partikel air sesuai dengan bunyi yang kita berikan. Seperti halnya penelitian yang dilakukan oleh salah seorang peneliti dari Jepang Dr. Masaru Emoto. Kebayang partikel air aja bisa berubah dengan bunyi. For further info : http://indocropcircles.wordpress.com/2012/11/05/air-dapat-mendengar/

Lainnya, aku pun memilih melody dapat disamakan dengan roda kehidupan kita yang terus berputar. Seandainya kita flashback atau merefleksikan kehidupan kita, roda kehidupan kita pun menghasilnya melody yang berbeda. Derap langkah, nafas, bahkan hal yang biasanya kita lakukan sehari-hari pun akan berubah sesuai dengan kondisi saat itu. Derap langkah dan nafas misalnya, saat kita dalam situasi yang memang excited, senang dan bersemangat mungkin nafas kita akan normal dan derap langkah kita enteng dan bersinergi serta bersemangat. Berbeda saat kita sedang sedih tidak bersemangat, derap langkah tentunya menjadi lesu dan tidak bersemangat, bahkan hembusan nafas pun menjadi terasa lebih berat. Saat disamakan dengan lagu-lagu klasik pun tampak sama, kita dapat melihat jenis lagu yang memiliki warnanya sendiri dan saat kita baca sejarah dari lagu tersebut kadang lagu itu dibuat saat situasi yang berbeda-beda.

So, itulah alasan aku untuk memilih melody sebagai pedoman dalam setiap hal yang berhubungan dengan aku. Selain itu, aku juga memilih melody karena aku tidak dapat hidup tanpa music, entah kegiatan apa yang aku lakukan namun tetap music merupakan bagian keseharianku. Walaupun ada hanya beberapa jenis music saja yang memang bisa cocok di telingaku :p Tambahan lain untuk icon Piano yang selalu aku pakai pada setiap akhir postingku.. Satu-satunya alat music yang aku senangi adalah piano. Walaupun aku tidak menguasai piano namun aku sempat kursus piano sekitar 1,5 tahun. Dan tetap skill pianoku tidak bertambah, namun piano masih tetap menjadi alat music favoritku karena kesan elegan yang selalu tercermin dari piano dan nada yang dikeluarkannya. Jadi itulah paduan aku dari MelodyPiano..



By: MelodyPiano



Thursday, August 15, 2013

Beban mental sebuah Profesi

Judulnya agak berat memang.. Terinspirasi buat bikin tulisan ini udah cukup lama, hanya saja belum terealisasikan untuk di publish dan disempurnakan.

Terinspirasi dari kelulusan aku menyandang gelar Magister Psikologi, Psikolog. Makin panjang plus berat deh tuh nama.. hihi.. Gelar yang semakin panjang gak menimbulkan kebahagiaan sih buat aku, justru menambah beban yang cukup berat dengan tanggung jawab yang lebih besar. Sejak masa sekolah, kuliah awal gak kepikiran bisa menyandang gelar sepanjang itu dan seberat itu. Kepikiran hanya menjadi orang berhasil yang bakal menghasilkan banyak uang. hahaha.. 
Selama proses menjadi psikolog pun jatuh bangun, kesandung sana-sini.. Proses berat dan panjang.. Tapi disinilah aku mulai belajar banyak hal yang menjadi bekal untuk aku menjalani profesi baruku nantinya. Setelah aku mulai magang dan praktikum aku baru sadar menjadi seorang psikolog gak sekadar menerima curhatan orang, kasih advice andddd FINISH!! Salah besar, walaupun banyak orang yang menganggap kerjaan psikolog gampang dan gak butuh tenaga ekstra.. Disinilah terkadang kita lupa sama beban dari sebuah profesi yang dijalani seseorang.. Psikolog juga manusia yang tetap punya perasaan kesel, sedih, bete, sakit.. Dan apa yang akan mereka lakukan saat perasaan itu muncul dan mereka harus menerima klien? Ya, tentu saja mereka harus memakai topeng.. Hal mudah mungkin untuk beberapa orang yang tidak mengerti seberapa besar tenaga yang mereka pergunakan untuk menjadi pendengar dan pemberi nasehat yang baik dikala mereka sedang dilanda rasa sedih yang mendalam. Belum lagi saat banyak orang (sahabat terutama) yang memaksa mereka untuk memberitahukan bagaimana cari mengerjakan psikotes, padahal psikolog dihadapkan dengan segudang kode etik yang melandasi ruang gerak mereka. Namun inilah yang orang awam kurang paham.. 

Hal lain yang mungkin aku lihat dari profesi lain yang memang aku baru dalami belakangan ini. Seorang teman lama yang menyandang gelar seorang dokter. Walaupun hanya seorang dokter umum, namun beban mental yang ditanggungnya pun berat.. Kebanyakan orang menganggap betapa enak dan nyamannya kehidupan seorang dokter yang bisa bebas jam kerjanya.. Tapi dibalik itu orang-orang gak pernah sadar sama beban yang mereka tanggung saat salah satu pasien mereka meninggal, pasien yang mereka tangani benar-benar tidak tertolong, saat mereka menghadapi pasien gawat darurat. Kebanyakan orang hanya menuntut supaya sang dewa penolong memberikan usaha terbaik. namun saat usaha terbaik hingga keringat terakhir dokter apa orang akan menghargai sebagai pekerjaan yang mulia? terkadang tidak saat hasilnya tidak sesuai dengan yang mereka inginkan. Mereka cenderung menyalahi dokter dan tidak sedikit yang menuntutnya menjadi sebuah malpraktek. Hal yang memang berat untuk dihadapi seorang dokter.
Teman lama ini membuatku terinspirasi dengan beberapa kisahnya saat menghadapi pasien yang meninggal, pasien darurat yang membutuhkan pertolongan. Munculah pertanyaan dia "Dokter adalah penyelamat jiwa namun siapa yang akan menjadi Life Saver untuk seorang Dokter?" hal ini menginspirasikan aku membuat 

'Medical Psychology Philosophy'.. 
If a doctor need a life safer there will a psychologist beside him for safe his life and if a psychologist need a self healer there will be a medical doctor will heal her.
Catharina Nidyaputri, 2013

Hasil perenungan setelah perbincangan antara saling keterkaitan tentang kelemahan kami sebagai manusia yang masih memiliki perasaan dan membutuhkan orang lain untuk saling berbagi. Mungkin tidak hanya berlaku kepada profesi psikolog dan dokter, profesi lain tetap bisa saja saling melengkapi.. filosofi ini aku buat untuk menyalurkan dalam bentuk kata-kata kalau manusia dapat menjadi seorang ahli terapis masing-masing.. So, come on.. jangan selalu menganggap setiap profesi itu hidupnyaa enak dan santai.. We are just still a human... 

By: Melody Piano